Batik Fraktal Batik dengan Sentuhan Teknologi

Batik Fraktal Batik dengan Sentuhan Teknologi. Baru saja kita melewati Hari Batik Nasional yang jatuh tiap 21 Oktober. Penetapan Hari Batik Nasional ini sekaligus sebagai bentuk penghargaan kepada warisan leluhur yang menurunkan kemampuan membatik. Batik sendiri bukan hanya dari Jawa. Hampir tiap daerah ada, dengan nama beragam pula. Harus diingat, batik juga diakui dunia sebagai warisan budaya Indonesia.

Sumber: www.twitter.com

Sumber: www.twitter.com

Memang menarik, Batik Fraktal Batik dengan Sentuhan Teknologi. Coba lihat pada The Textile Museum di Washington DC Amerika. Akses situsnya, www.textilemuseum.org.  Mereka mendefinisikan batik sebagai bagiansejarah Indonesia. “Indonesian term for the wax-resist dyeing process, or a fabric decorated with this process. Such fabrics reached fantastic heights of virtuosity on the island of Java in Indonesia in the late 19th and early 20th centuries after the introduction of machine-made cotton fabrics permitted more finely controlled designs”.

Terlepas dari pengakuan itui, kepopuleran batik yang mendunia bikin para seniman batik di Indonesia berusaha membuat batik dengan lebih kreatif. Termasuk dengan memanfaatkan teknologi, tidak hanya menggunakan canting. Maka, batik fraktal pun mulai populer di masyarakat.

Apa itu batik fraktal? Jadi, batik fraktal adalah batik dengan motif yang dirancang dengan bantuan software tertentu di komputer. Dinamakan batik fraktal karena pembuatannya motifnya menggunakan rumus permodelan fraktal. Adapun pengertian fraktal sendiri adalah, satu konsep ilmu matematika yang membahas mengenai kesamaan pola dalam suatu skala.

Menggunakan rumus fraktal, pola batik yang sudah ada diterjemahkan sehingga dapat dimodifikasi dengan bantuan software tertentu dan dapat menghasilkan suatu motif baru yang tak kalah indah dari batik karya tangan atau tradisional.

Siapa yang pertama memperkenalkan batik fraktal? Nancy Margried, Muhamad Lukman dan Yun Hariadi dari Institute Teknologi Bandung (ITB) yang menemukan unsur matematika fraktal dalam motif batik tradisional pada 2007. Setelah penemuan mereka, maka motif batik tradisional seperti, parang, kawung, buketan, lunglungan, sawat garuda, merak ngibing dan sebagainya mengalami modifikasi menjadi ribuan motif baru batik fraktal.

Adapun software yang digunakan untuk membuat motif batik fraktal diberi nama jBatik. Sama seperti batik cetak atau olah tangan, proses pembuatan batik fraktal tak berbeda. Cua motifnya lebih kontemporer, tidak klasik. Jadi, Batik Fraktal Batik dengan Sentuhan Teknologi.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *